• 2 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Bangun kepercayaan diri siswa dengan “Menulis buku dalam 40 hari”
#1
[Image: 1626246486_6n8vCKnKw4Iwnym.png]
Badriah adalah salah satu guru di SMAN 2 Kabupaten Cianjur yang  berkeinginan agar warga sekolah, khususnya, para siswa, memiliki keterampilan literasi yang baik sebagai bekal di masa depan. Badriah menemukan proses pendidikan dalam meningkatkan literasi belum optimal. Gerakan Literasi Sekolah pun dirasakan siswa membosankan dan begitu-begitu saja. 

Padahal keterampilan literasi berkontribusi besar bagi peningkatan kualitas personal dan akademik siswa.

Badriah kemudian mencetuskan kegiatan “Menulis 100 buku dalam 40 hari” dengan jargon “Reading to Write”. Kegiatan ini menantang seluruh warga sekolah untuk membaca beragam buku dalam pelbagai bahasa dan menghasilkan satu buku tunggal dalam waktu 40 hari.

Pada awalnya, tidak mudah. Setelah rapat guru dan kepala sekolah, dari 85 guru hanya 5 orang yang bersedia berpartisipasi. Sebagian besar guru beralasan tidak bisa dan kurang berbakat menulis. Padahal para guru memiliki andil besar sebagai model dan membersamai siswa dalam proses menulis.

Badriah meyakinkan para guru bahwa menulis semudah berbicara. Dia menawarkan solusi penggunaan aplikasi rekaman speech to text yang memungkinkan menulis semudah berbicara. Melihat begitu mudahnya menulis,  akhirnya, dari 5 guru bertambah menjadi 10 guru yang bersedia turut serta pada tantangan menulis.

Dengan jumlah guru yang ada, Badriah membangun tim. Mereka diajak untuk berkomitmen dalam mendampingi para siswa. Mereka diberi ruang untuk berlatih kembali menyisihkan waktu untuk membaca, menulis, dan pada saat yang sama, menerima konsultasi dari para siswa bimbingannya. Pelaksanaan kegiatan tantangan menulis dimulai dengan workshop dan bimbingan seperti tekhnik dasar menulis. Dilanjutkan dengan coaching secara online, pertemuan berkala dan self-editing.

Tantangan lain yang harus ditemukan solusinya segera adalah terdapat sebanyak 20% peserta tantangan menulis hampir menyerah tidak sanggup menyelesaikan tulisan. Badriah bersama tim merevitalisasi  dan menyegarkan kembali semangat, tujuan,  dan konsep aktualisasi diri lewat menulis. Bagi mereka yang hampir menyerah, mereka diberi waktu tambahan dalam menulis.

Sesuai waktu tantangan yang disediakan, akhirnya, 100 naskah buku selesai dan berhasil diterbitkan. Sebagai bagian dari penghargaan dan keberhasilan kegiatan, diadakan pameran buku atau open house “Menulis 100 buku dalam 40 hari” di SMAN 2 Cianjur. Jadi proses menulis bukan merupakan kegiatan tunggal. Namun merupakan multi-aktivitas yang berujung pada kegiatan menulis.

Para peserta tantangan diminta untuk membaca beragam buku, diantaranya wajib membaca buku berbahasa Sunda dan mengunggah reviewnya pada Instagram masing-masing peserta. Tujuannya tiada lain adalah untuk mengonfirmasi bahwa semakin baik penguasaan bahasa ibu akan semakin baik pula dalam penguasaan bahasa kedua dan selanjutnya. Mereka juga didorong untuk menulis dalam bahasa Sunda, selain dari menulis dalam bahasa Indonesia. 

Badriah mendapati peningkatan keterampilan literasi pada siswa. Keterampilan yang langsung adalah kemampuan mereproduksi ulang informasi ragam tulis dan keterampilan mengolah kata secara kognisi. Keterampilan penyerta lainnya, diantaranya adalah kemampuan mengelola emosi dan tanggung jawab yang berkontribusi pada kepercayaan diri serta kebanggaan siswa sebagai dampak dari pencapaian mereka dalam menulis dan mengaktualisasikan eksistensi diri lewat tulisan.
  Reply
#2
(07-14-2021, 02:08 PM)sintiar27 Wrote:
[Image: 1626246486_6n8vCKnKw4Iwnym.png]
Badriah adalah salah satu guru di SMAN 2 Kabupaten Cianjur yang  berkeinginan agar warga sekolah, khususnya, para siswa, memiliki keterampilan literasi yang baik sebagai bekal di masa depan. Badriah menemukan proses pendidikan dalam meningkatkan literasi belum optimal. Gerakan Literasi Sekolah pun dirasakan siswa membosankan dan begitu-begitu saja. 

Padahal keterampilan literasi berkontribusi besar bagi peningkatan kualitas personal dan akademik siswa.

Badriah kemudian mencetuskan kegiatan “Menulis 100 buku dalam 40 hari” dengan jargon “Reading to Write”. Kegiatan ini menantang seluruh warga sekolah untuk membaca beragam buku dalam pelbagai bahasa dan menghasilkan satu buku tunggal dalam waktu 40 hari.

Pada awalnya, tidak mudah. Setelah rapat guru dan kepala sekolah, dari 85 guru hanya 5 orang yang bersedia berpartisipasi. Sebagian besar guru beralasan tidak bisa dan kurang berbakat menulis. Padahal para guru memiliki andil besar sebagai model dan membersamai siswa dalam proses menulis.

Badriah meyakinkan para guru bahwa menulis semudah berbicara. Dia menawarkan solusi penggunaan aplikasi rekaman speech to text yang memungkinkan menulis semudah berbicara. Melihat begitu mudahnya menulis,  akhirnya, dari 5 guru bertambah menjadi 10 guru yang bersedia turut serta pada tantangan menulis.

Dengan jumlah guru yang ada, Badriah membangun tim. Mereka diajak untuk berkomitmen dalam mendampingi para siswa. Mereka diberi ruang untuk berlatih kembali menyisihkan waktu untuk membaca, menulis, dan pada saat yang sama, menerima konsultasi dari para siswa bimbingannya. Pelaksanaan kegiatan tantangan menulis dimulai dengan workshop dan bimbingan seperti tekhnik dasar menulis. Dilanjutkan dengan coaching secara online, pertemuan berkala dan self-editing.

Tantangan lain yang harus ditemukan solusinya segera adalah terdapat sebanyak 20% peserta tantangan menulis hampir menyerah tidak sanggup menyelesaikan tulisan. Badriah bersama tim merevitalisasi  dan menyegarkan kembali semangat, tujuan,  dan konsep aktualisasi diri lewat menulis. Bagi mereka yang hampir menyerah, mereka diberi waktu tambahan dalam menulis.

Sesuai waktu tantangan yang disediakan, akhirnya, 100 naskah buku selesai dan berhasil diterbitkan. Sebagai bagian dari penghargaan dan keberhasilan kegiatan, diadakan pameran buku atau open house “Menulis 100 buku dalam 40 hari” di SMAN 2 Cianjur. Jadi proses menulis bukan merupakan kegiatan tunggal. Namun merupakan multi-aktivitas yang berujung pada kegiatan menulis.

Para peserta tantangan diminta untuk membaca beragam buku, diantaranya wajib membaca buku berbahasa Sunda dan mengunggah reviewnya pada Instagram masing-masing peserta. Tujuannya tiada lain adalah untuk mengonfirmasi bahwa semakin baik penguasaan bahasa ibu akan semakin baik pula dalam penguasaan bahasa kedua dan selanjutnya. Mereka juga didorong untuk menulis dalam bahasa Sunda, selain dari menulis dalam bahasa Indonesia. 

Badriah mendapati peningkatan keterampilan literasi pada siswa. Keterampilan yang langsung adalah kemampuan mereproduksi ulang informasi ragam tulis dan keterampilan mengolah kata secara kognisi. Keterampilan penyerta lainnya, diantaranya adalah kemampuan mengelola emosi dan tanggung jawab yang berkontribusi pada kepercayaan diri serta kebanggaan siswa sebagai dampak dari pencapaian mereka dalam menulis dan mengaktualisasikan eksistensi diri lewat tulisan.
  Reply
#3
mantap
  Reply
#4
Kegiatannya cukup menarik dan bisa menambah keterampilan siswa.
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)