• 1 Vote(s) - 4 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Cara Unik Vocalis Abadikan Hari Kartini di Masa Pandemi
#1
Photo 
[Image: 1628519593_Cx8exyRQBXMaKc2.png]
Vocalis merupakan kumpulan pendidik di sebuah organisasi akademik formai bernama SMKN 1 Campaka, di Kabupaten Cianjur. Vocalis adalah kependekkan dari Voscha Menulis. Voscha itu sendiri singkatan dari Vocational School. Para guru SMKN 1 Campaka Kabupaten Cianjur merasakan bahwa hadirnya pandemi Covid-19 telah mengubah bagaimana merayakan kesetaraan gender para perempuan yang jatuh pada bulan April, menjadi sangat berbeda, tidak ada kemeriahan anak-anak berbaju Kartini, atau hal-hal lain yang sudah rutin dilakukan hanya pada saat merayakan hari Kartini.

Para guru yang bergabung pada Vocalis berharap peringatan hari Kartini di masa pandemi Covid-19 tetap terasa semangatnya. Berangkat dari keinginan in, para guru bersepakat untuk melakukan sesuatu yang sangat berbeda dalam merayakan hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2021. Mereka melakukan pelatihan menulis yang dibimbing oleh Badriah, Pengawas SMA, dari Cabang Dinas WIlayah VI, Jawa Barat. Pelatihan yang khusus membantu para guru mendapatkan pengalaman menulis.

Menulis, sebagai sebuah kata kerja, yang menuntut untuk ada aksi, yaitu menulis. Para anggota Vocalis menunjukkan retensi dan kekhawatiran ketika diminta untuk memberikan kesempatan kepada diri mereka sendiri melakukan aksi menulis. Mereka memandang bahwa guru-guru SMK tidak akrab dengan dunia kepenulisan. Menggerakkan tangan untuk menghasilkan produksi berbentuk tulisan, terdengar janggal untuk guru-guru yang akrab dengan dunia praktik vokasi seperti mencangkul dan membersihkan gulma. 

Pelatihan menulis memaksa para Vocalis untuk menempatkan jemarinya di atas keyboard dan mulai menulis. Mereka mengeluh dan mengaduh. Kritikan pada tulisan yang mereka buat sendiri begitu gencar. Mereka menghapus tulisannya sendiri dengan alasan tidak bagus, tidak menarik, tidak percaya diri jika tulisannya layak dikonsumsi pembaca. Ketakutan dan kengerian tulisannya kurang berterima di hati pembaca membebani jari-jari tangan mereka yang sedang dipaksa memverbalkan gagasan lewat ketikan jari-jari di atas keyboard

Menulis menjadi terasa semakin berat. Para Vocalis menulis sambil bertarung dan sekaligus melawan ketakutannya sendiri. Pertarungan semakin sengit ketika mereka diminta menulis dalam bahasa Sunda. Alih-alih Vocalis menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dan bahasa sehari-hari, mereka mengaku menyerah jika harus menulis bertema Kartini di masa pandemi dalam bahasa Sunda. Tantangan menulis dalam bahasa Sunda diterima oleh beberapa orang guru yang bergabung dalam Vocalis. Mereka yang menyerah memilih menulis dalam bahasa Indonesia. 

Keberanian menulis dalam bahasa Sunda pun dalam bahasa Indonesia sesungguhnya merupakan sebuah terobosan besar bagi para Vocalis yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman menulis. Satu per satu artikel bertema Kartini selesai ditulis. Para guru di SMKN 1 Campaka Cianjur mengungakapkan bahwa menulis adalah keterampilan. Untuk terampil diperlukan banyak latihan. Akar masalah yang akut adalah kurangnya berlatih menulis. Kesadaran kurangnya latihan mendorong para guru untuk menghidupkan semangat Kartini, yang tiada lain, sosok pembaca sejati dan penulis, atau pembelajar sepanjang hayat. 

Buku Kartini di masa pandemi yang dibuat berdarah-darah oleh para Vocalis akhirnya terbit ber-ISBN. Kumpulan tulisan yang menggemakan semangat Kartini dari sudut pandang personal para guru SMKN 1 Cianjur. Terbitnya buku menjadi bukti bahwa setiap orang berkesempatan untuk mempertemukan gagasannya kepada orang lain, syarat satu-satunya yang dibutuhkan adalah "memberikan kesempatan untuk menemapatkan menulis sebagai kata kerja' dengan cara ini hari istimewa, seperti hari Kartini, dapat diabadikan.


(Badriah, Pengawas SMA, Kabupaten Cianjur)
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)