• 2 Vote(s) - 4 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Mengikat Hati Melalui Hati
#1
Mendapat tugas  mengajar di kelas kecil merupakan sebuah tantangan baru bagi Tya, seorang guru SLB-B Sumbersari di kota Bandung. Sebelumnya pengalaman yang telah dilewati adalah mengajar SD kelas atas berlanjut pada jenjang SMP dan jenjang SMA di sebuah lembaga yang berbeda. Baru kali ini mengajar di kelas tuna rungu dan di kelas kecil pula uhhh rasanya seperti berada di dunia baru.  

Menghadapi karakter anak usia dini bukanlah suatu hal yang mudah. Masa usia dengan egosentris yang masih memuncak dan kelekatan biologis yang tinggi adalah satu permasalahan adaptasi sosial di awal tahun ajaran. Apalagi ketika bertemu guru baru yang pertama kali dilihat.

Veli namanya, ya Veli yang paling unik daripada anak lainnya, diantara anak-anak yang sudah mau masuk kelas tanpa diantar orang tua sampai pintu, bahkan sudah terbiasa dengan hanya melambaikan tangan di gerbang sekolah, lalu dengan percaya diri menuju kelas sambil menyapa ibu guru. Berbeda halnya dengan Veli yang selalu diantar sampai kelas bahkan harus ditemani sampai pelajaran usai. Tersirat di benak Tya sebuah pertanyaan besar, “sebenarnya sejak kapan hal ini terjadi?” apakah karena ajaran baru dan bertemu dengan guru baru?.

Setelah ditelusuri ternyata sejak kelas satu ia tidak bisa terlepas dari neneknya sebagai pengantar karena kelekatan yang begitu kuat. Rasa hawatir yang besar karena takut ditinggal pulang dan belum punya pengalaman melalui kebersamaan dengan orang lain tanpa ditemani orang terdekatnya. Jadi selama setahun lamanya Veli belajar di kelas dengan didampingi nenek tercinta.

Pada awalnya Tya berfikir ini bukanlah hal yang mudah, karena kebiasaan yang sudah berjalan, kenyamanan yang telah terlalui akan sulit diubah. Setelah beberapa kali bertemu di kelas Tya melakukan pengamatan, mengenali karakteristiknya selama belajar, mengenali cara bersosialisasinya dan perilaku merespon intruksi ketika berinteraksi. Akhirnya ditemukanlah bahwa Veli akan bisa percaya kepada orang lain ketika ia sudah tau akan aman berada di dekatnya.

Dua minggu berlalu, Tya pun akhirnya membuat sebuah strategi dengan membuat satu kesepakatan bersama neneknya, melepas kelekatan yang kuat dengan perlahan. Dengan cara neneknya harus berbesar hati menyerahkan kepercayaan tersebut pada guru kelasnya Veli, yaitu Tya. Awalnya kelakatan itu dilepas dari dalam kelas. Nenek tetap berada di kelas tapi dengan duduk sedikit berjarak dari Veli yang mana sebelumnya Veli selalu duduk dipangkuan neneknya.

Kesempatan inipun digunakan Tya sebaik mungkin, Melalui metode “<i>behavior approach”</i>  Tya mencoba untuk membangun sebuah kepercayaan dengan Veli, memberi kenyamanan dengan cara mengikat hatinya dan mengajarkan materi menggunakan hati. Sedikit demi sedikit kepercayaan itu mulai timbul dari benak Veli, rasa hawatirnya mulai luntur secara perlahan. Namun untuk ditinggal sampai luar kelas Veli masih merasa berat. Sampai suatu saat strategi besar pun dilakukan, nenek Veli izin untuk ke toilet pada Veli, dengan berat hati Veli melepas nenek untuk ke toilet tapi  ia ingin menyaksikan neneknya dengan cara pintu kelas harus terbuka. Pada awalnya kemauannya diikuti oleh kita sebagai orang dewasa. Hal ini bertujuan agar ia tetap merasa aman dan percaya. Setelah itu Tya meyakinkan Veli bahwa dengan ditinggal nenek sebentar toh tidak terjadi apa-apa pada Veli, semua tetap memberi perhatian dan Veli tetap aman berada di kelas tanpa nenek. Veli diam sejenak seolah menunjukkan rasa setujunya akan hal tersebut.

Hari berikutnya strategi itupun diulang kembali, dan kali ini kita bersiap untuk waktu yang lebih lama melepas Veli di kelas, dengan nenek menunggu di halaman sekolah. Awalnya Veli mengijinkan nenek untuk ke toilet. Lama kelamaan ia pun menyadari kenapa nenek tidak kembali. Raut muka Veli mulai berubah, rasa cemas mulai terlihat dari ekspresi muka Veli dengan air mata yang mulai tergenang. Namun setelah diyakinkan, Veli berusaha percaya diantara kekalutan hatinya. Perlahan lahan dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menaklukan rasa cemasnya, tapi akhirnya ia tidak tahan untuk menyusul neneknya ke luar kelas. Dengan mencoba mengelabui guru bahwa ia ingin permisi ke toilet dengan menggunakan gaya bahasa isyaratnya sambil sedikit memaksa, akhirnya Tya mengijinkan Veli untuk ke toilet dengan syarat ditemani olehnya. Akhirnya Veli pun setuju.

Setibanya di toilet, Veli tidak buang air kecil, ia malah mau lari ke halaman dan menyusul neneknya. Dengan sigap Tya menggenggam tangan Veli, lalu merangkulnya agar tetap berada di toilet dan segera buang air kecil, Veli meronta sambil berteriak dan berguling guling di lantai depan toilet. Teriakannya membuat orang tua murid lain menghampiri dan menawarkan diri untuk membantu memanggilkan neneknya, namun segera Tya mencegahnya. Tya yakin ini merupakan moment tepat untuk meyakinkan Veli bahwa ia akan tetap aman tanpa neneknya di kelas. Veli masih meronta dan berguling-guling, Tya segera merangkul Veli dan menggendongnya ke kelas. Akhirnya Veli menyerah, ia tidak lagi menangis, ia mulai menyadari bahwa gurunya tidak mudah ia bohongi dan menuruti keinginannya dengan dia meronta seperti itu. 

Akhirnya setelah Tya memberi pengertian dan meyakinkan bahwa Veli bisa melewati waktu belajar tanpa nenek disampingnya, dan pada ibu guru, Veli bisa meminta bantuan ketika butuh sesuatu akhirnya Veli pun mulai paham dan yakin.

Sejak saat itulah hari-hari dapat dilalui Veli dengan belajar bersama teman-temannya bahkan bermain saat istirahat tanpa nenek menemaninya.  Sampai suatu saat nenek Veli sakit dan Veli hanya bisa diantar jemput oleh ayahnya, Veli dengan percaya diri masuk kelas tanpa ada rasa hawatir dan tangisan.

Alhamdulillah….ternyata ketika kita melakukan sesuatu dengan sungguh sungguh penuh ketulusan serta keyakinan dari hati maka akan mengikat hati yang sulit diraih.

 

Penulis : Attiyyah Tresna Setiawati, S.Pd
Pengajar di : SLB-B Sumbersari
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)