• 1 Vote(s) - 3 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Selamat Tinggal Malu
#1
Katanya guru itu tegas, suaranya lantang dan keras. Tapi, hatinya lembuuutttt sekali. Bu As nama panggilannya. Selama mengajar, Bu As selalu memegang kelas besar yaitu tingkat SMP atau SMA. Sudah dua tahun belakangan ini, Bu As diberikan tugas mengajar di tingkat SD kelas 1. Ketika pertama kali bertemu dengan ke enam siswa dengan berbagai karakter, anak-anak berlarian sambil tertawa, melompat-lompat di atas meja. Ada anak cantik yang sedang duduk dengan manisnya, ada juga suara tangisan yang meleking keras yang tidak mau di tinggalkan oleh mamanya. Tetapi pandangan Bu As tertarik pada seorang anak yang duduk tersipu malu dan tidak peduli akan keramaian di sekitarnya. Waahhhh.... kenapa dengan anak itu ya (tanya hati Bu As).

Rasa penasaran Bu As semakin besar terhadap anak itu, hingga membuat Bu As ingin tau lebih dekat lagi tentang anak itu.
Rafi, ya Rafi nama anak pemalu itu. Seorang anak yang pendiam dan selalu tertunduk malu ketika berada dalam keramaian. Ia tidak pernah beranjak pergi meninggalkan kursi yang Ia duduki. Tidak seperti teman lainnya yang selalu aktif di kelas.

Dalam waktu yang sama, Bu As menemui orang tua dari Rafi yang kebetulan berada di sekolah untuk menunggu anaknya. Bu As mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Mama Rafi itu. Perbincangan pun terus berlalu, terlihat ada perasaan malu yang enggan di ungkapkan Mama Rafi kepada Bu As tentang anaknya itu. Tetapi Bu As terus meyakini Mama Rafi agar tidak menyimpan rasa malu terhadap anaknya itu. Karena pada dasarnya anak adalah anugerah dari Alloh yang harus selalu di syukuri.

Dengan hati yang mencoba terbuka, akhirnya Mama Rafi bercerita latar belakang dari anak-anaknya.  Rafi  terlahir  kembar,  adik  Rafi  adalah  seorang  perempuan  yang  terlahir normal. Sedangkan Rafi berdeda dari adiknya itu. Adik Rafi bersekolah di sekolah umum dan kini sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Berbeda dengan adiknya itu, karena Rafi memiliki kekurangan akhirnya disekolahkan di SLB-C Sumbersari dan kini duduk di bangku Sekolah dasar kelas 1. Perbedaan itulah yang membuat Mama Rafi malu untuk mengutarakannya.
 Rafi adalah seorang anak laki-laki yang terlahir memiliki kelainan pada indera penglihatannya (low vision), memiliki IQ di bawah rata-rata anak seusianya dan tangan kanannya lemas bila digerakkan, sehingga harus dibantu oleh tangan kirinya.
Hati  Bu  As  terenyuh  mendengar  cerita  Mama  Rafi  itu.  Tetapi  Bu  As  tetap memberikan semangat kepada Mama Rafi.

Waktu terus berjalan ......
Tibalah pada kegiatan pembelajaran di kelas.

Terlihat dari raut wajah orang tua yang merasa khawatir anaknya ditinggal tanpa di dampingi oleh orang tuanya. Dengan nada lembut Bu As berkata “Percayakan putra dan putri Ibu pada saya”.  Serentak para orang tua pun menjawab “Terimakasih Bu”.

Dalam pertemuan pertama ini, Bu As mengajak siswa kelas 1 itu untuk memperkenalkan dirinya dengan memberitahu siapa namanya. Tentunya dengan kesabaran dan ketelatenan dan rasa kasih sayang yang tinggi, Bu As mengajak anak-anak untuk berani memperkenalkan dirinya di depan kelas.

Pembelajaran selanjutnya di mulai.

Pandangan mata Bu As tertarik pada Rafi, ya Rafi terlihat sangat kesulitan dalam kegiatan belajar manulis dan aktivitas lainnya. Lalu Bu As membimbing Rafi dengan penuh kasih sayang. Begitupun membimbing siswa lainnya, Bu As selalu telaten dan penuh kesabaran ketika memberikan pembelajaran kepada semua siswanya itu. Sekilas terlihat ada lebam berwarna biru pada kepala dan mata Rafi itu. Tidak terlihat dengan jelas karena Rafi yang selalu menundukkan kepalanya dan selalu duduk di bangku paling pojok percis ketika pertama kali masuk kelas, Rafi duduk di kursi yang sama.

Dengan perasaan sayang, Bu As menyapa Rafi sebelum pembelajaran dimulai. Rafi sayang apa kabarnya pagi ini nak? Dengan nada yang sangat pelan dan perasaan yang sangat malu dan terbata-bata Rafi pun menjawab sapaan Bu As untuknya. Ba ..... baik. Cukup menjawab dengan kata “Baik” yang terbata-bata. Hati Bu As semakin penasaran dengan Rafi dan mencoba melanjutkan komunikasi dengan Mamanya lagi untuk berbicara tentang kondisi Rafi lebih lanjut.

Komunikasi  dengan  Mama Rafi  pun  dilanjutkan,  ternyata  dari  hasil  pembicaraan dengan Mamanya Rafi sering kali tidak menyadari ketika dengan kerasnya kepalanya itu terbentur  pintu.  Dalam  hati  Bu  As  dengan  penuh  kesedihan  berkata  “Aduh  Nak  kasian sekali”. Mamanya pun berkata kejadian itu tidak hanya sekali dan itu sering terjadi. Sehingga membuat lebam-lebam di sekitar kepala dan matanya. Faktor itu pula yang membuat Rafi selalu tertunduk malu dan terus terdiam di pojok kelas.

Melihat kondisi seperti ini, Bu As mencoba berupaya agar Rafi dapat berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya. Seperti interaksi berbincang-bincang dengan temannya, tertawa dan bermain. Hal yang paling penting adalah bagaimana cara agar Rafi dapat menengadahkan kepalanya dan tidak tertunduk malu lagi.

Hari demi hari, bulan ke bulan dan waktu terus berjalan.
Banyak sekali perubahan yang ditunjukkan oleh Rafi di kelas. Terlihat oleh Bu As, Rafi adalah seorang anak yang menyenangkan, senang sekali bersenandung. Sehingga pada suatu hari dengan nada yang tidak pelan-pelan lagi Rafi berkata kepada Bu As “Buuuuuuu aku suka sama Kekey (teman sekelasnya) dan Rafi minta kepada Bu As bahwa Ia ingin duduk bersama Kekey. Dengan rasa senang pun Bu As menjawab “Oh ya boleh nak ayo bergabung bersama teman-teman ya”. Dengan perasaan bangga Bu As merasa bahwa sudah banyak perubahan yang dilakukan Rafi hingga Ia berani berbicara dan berani berinteraksi dengan teman-temannya di kelas.Kini seorang Rafi tidak terlihat tertunduk malu dan berdiam diri lagi di kelas. Senyum sumringah yang kini menghiasi wajah Rafi. Bu As sangat bangga sekali kepada Rafi.Lonceng berbunyi menandakan waktu istirahat tiba. Teng.... teng...teng.... Anak-anak  berhamburan meninggalkan kelas dan menuju kantin sekolah. Terlihat pula dengan semangatnya Rafi beranjak dari tempat duduknya itu dengan keterbatasannya itu, Rafi meraba-raba tempat duduk, tembok dan pintu Rafi pun mengajak temannya untuk menuju kantin sambil berbicara “Ayo kita ke kantin yuk”. Temannya pun menjawab ajakan Rafi “Ayooooooooo”.

Dengan penuh keingintahuan Bu As tentang kegiatan yang dilakukan Rafi dan teman- temannya itu, Bu As mengikuti Rafi dari belakang.

Rafi berjalan sangat pelan dan tertatih-tatih, Ibu kantin pun bertanya “Mau jajan apa Rafi?”  dan  Rafi  pun  langsung  menjawab  “Ibu,  mana  makanan  kesukaanku  yang  sudah dipesan tadi pagi, aku pesan sate jepret 10 tusuk dan sate cilok 10 tusuk. Sate jepret adalah makanan yang terdiri dari kulit ayam yang di tusukkan ke tusuk sate. Begitupun dengan sate cilok, sate cilok adalah makanan yang terdiri dari butiran-butiran tepung aci yang dibuat berbentuk bulat-bulat kecil lalu ditusukkan ke tusuk sate. Kedua makanan itu adalah makanan tradisional khas Jawa Barat. Rafi sangat menyukai makan itu.

Rafi membawa bungkusan sate jepret dan sate cilok yang Ia beli itu untuk dibagikan kepada teman-teman di kelasnya. Rafi membagikan makanan itu dengan rata. Teman- temannya merasa senang karena Rafi sangat baik kepada mereka. Hal itu dilakukan Rafi setiap harinya, Ia selalu membeli sate jepret dan sate cilok lalu dibagikan kepada teman- teman di kelasnya.

Rafi yang dulu sering terlihat tertunduk malu dan berdiam diri, kini tidak lagi seperti itu. Rafi yang sekarang adalah seorang Rafi yang periang, suka berbagi dan sayang kepada teman-temannya. Sehingga teman-temannya pun sayang pada Rafi yang sering membagikan makanan.

Karena kebiasaan Rafi setiap harinya selalu membagikan makanan, ketika suatu hari Rafi tidak masuk sekolah karena sakit, teman-temannya bertanya kepada Bu As “Buuuuu Rafi kemana?”. Bu As menjawab dengan senyum “anak-anak hari ini Rafi tidak masuk sekolah karena sakit, mari kita doakan teman kita yang sedang sakit semoga segera diberikan kesehatan seperti sedia kala”. Dengan kompaknya teman-teman Rafi menjawab “Aamiin”.

Terlintas dalam benak Bu As, mungkin temannya itu merasa tidak ada Rafi berarti tidak ada sate jepret dan sate cilok hari ini. Bahagia rasanya melihat anak didik yang semula tidak dapat berinteraksi dengan temannya kini menjadi bagian yang dinanti oleh teman-temannya. Berbekal dari suatu kejujuran orang tua dan pendekatan dengan rasa sayang kepada siswa membuat perubahan besar dalam jiwa sosial anak tersebut.
 


Penulis : Trincing Astati, S.Pd
Unit Kerja : SLB-C Sumbersari Kota Bandung
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)