• 1 Vote(s) - 3 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kolaborasi Siswa Melalui Kegiatan Wirausaha Potensi Lokal dan Lingkungan
#1
Sari merupakan salah satu guru di SMAN 1 Lohbener Kabupaten Indramayu, yang memiliki keinginan untuk mengembangkan Life Skill atau kecakapan hidup siswa melalui kegiatan-kegiatan positif yang bermakna, kebiasaan siswa dalam menggunakan gedget secara tidak bijak membuat mereka terbentuk menjadi individualiss, asik dengan dunianya sendiri tanpa peduli pada lingkungan sosialnya padahal peranan manusia adalah selain sebagai makhluk individu juga sebagai maksluk sosial yang tentunya saling membutuhkan satu sama lain, dominasi gedget membuat siswa tidak tertarik melakukan aktifitas positif maka perlunya suatu kegiatan positif  yang diadakan oleh sekolah sebagai salah satu upaya dalam meminialisir dampak kurang baik tersebut, hal ini dapat dilakukan sebagai bentuk implementasi antara teori pembelajaran yang didapatkan dengan nilai-nilai karakter dan budaya yang dimiliki oleh daerahnya.

Sari ingin mengajak dan mengenalkan siswa akan potensi alam yang dimiliki kabupaten indramayu kedalam kegiatan kreatif wirausaha, selain mengenalkan kecakapan hidup atau life skill sebagai kesiapan atau bekal ketrampilan siswa juga menumbuhkan rasa cinta pada daerahnya dengan menjaga dan ikut andil dalam melestarikan potensi SDA yang ada dalam menjaga kestabilan ekosistem suatu linkungan., mengingat Indramayu merupakan daerah yang memiliki banyak hutan Mangrove yang tentu siswa ketahui atas teori dasar yang mereka dapatkan dalam proses pembelajaran bahwa Mangrove itu sendiri memiliki manfat baik Manfaat Hutan Mangrove secarara ekologi, ekonomi, fisik, biologi manfaat kimia maupun manfaat sosial sangat dirasakan dalam kehidupan. Kenapa hutan mangrove yang dijadikan sebagai fokus kegiatan, hal ini karena mangrove adalah salah satu potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu yang sebagaian wilayahnya merupakan pesisisr, sari berkordinasi dengan beberapa rekan guru dalam kegiatan ini diantaranya dengan Ibu Lili Juliah dan ibu Erti selaku guru Biologi pada SMAN 1 lohbener tersebut.
 
Atas dukungan penuh kepala Sekolah yaitu bapak Wahyu Bagio,  Sari dibantu oleh rekan-rekan guru untuk menyelenggarakan kegiatan observasi alam dengan mengunjungi kawasan ekowisata hutan Mangrove Karangsong dan ekowisata Mangrove Persada, melalui kordinasi dengan pengelolah serta perangkat desa siswa diberika edukasi akan tujuan awal kedua mangrove tersebut dijadikan sebagai ekowisata, kegiatan ini sebagai stimulan siswa dalam membuat produk berdasarkan peluang ekonomi yang mereka peroleh dari hasil pengumpulan informasi secara langsung tersebut.

Dari kegiatan ini siswa mendapatkan informasi akan nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh karangsong, nilai-nilai ini sering dianggap hal yang tidak penting bagi para generasi muda karena dianggap sebagai hal yang tidak “kekinian’, padahal justru pada generasi mudalah kelestarian dari kearifan lokal ini harus tetap dijaga agar nilai-nilai budaya pada suatu daerah tetap lestari terlebih jika kearifan lokal itu sendiri merupakan payung hukum dari suatu upaya masyarakat setempat dalam melindungi ekosistem atau lingkungannya seperti pada desa Karangsong ini.
 
Terbukti dari kearifan lokal yang dimiliki mayarakat karangsong selain acara adat seperti Nadran, juga adanya kearifan lokal yang dibuat perdes setempat guna melindungi kelestarian ekosistem mangrove dari penebangan-penebangan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, adanya perdes tentang larangan menebang pohon tersebut tidak lain karena pada tahun 90an pernah terjadi penebangan mangrove dan menjadikannya sebagai lahan tambak udang yang cukup menjanjikan hasilnya, akan tetapi lambat laun hal tersebut berdampak buruk pada keseimbangan alam yang mengakibatkan abrasi dan berdampak pada turnnya hasil panen tambak warga sekitar, tidak adanya pohon mangrove membuat abrasi tidak terbendung lagi, dan pada sekitar tahun 90-an tambak warga yang dulunya merupakan  sumber ekonomi, perlahan terkikis air laut.

Pemahaman siswa akan informasi yang didapatkan ini diharapkan mampu menjadi mind set positif bahwa memanfaatkan nilai ekonomis alam harus disertai dengan rasa mencintai dan peduli pada lingkungan
 
Sebagai salah satu dasar pengembangan kegiatan wirausaha siswa  dipandu oleh Pa Makrus (pengurus ekosiwata karangsong) dan Pak Latif (pengurus rumah berdikari mangrove persada) untuk melihat potensi yang dimiliki kedua mangrove tersebut baik spesies ataupun hal lainnya, siswa diajak berkeliling menggunakan perahu dan dikenalkan pada  mangrove jenis Pidada (Sonneratia Caseolaris) buah dari mangorve ini memiliki aroma yang khas dan memiliki rasa yang segar sehingga cocok dijadikan olahan makanan, jika diperhatikan masyarakat setempat belum banyak yang memanfatkan buah pidada ini sehingga siswa berinisiatif untuk menjadikan buah pidada ini menajdi olahan dari produk wirausaha mereka selain memilih mengolah mangrove menjadi produk olahan makanana berupa sirup dan dodol mangrove, ada juga yang tertarik membuat sejenis kampanye dan ajakan untuk bersama-sama melestarikan mangrove, hal tersebut didukung oleh pengurus rumah berdikari yaitu pak Latief, mereka juga menunjukkan beberapa produk yang pernah dibuat oleh masyarakat sekitar sebagai bahan pembanding, siswa juga diajarkan bagaimana cara memilih buah pidada yang matang.

Implementasi dari kegiatan ini bersifat kelompok, yang artinya dalam pembuatan produk siswa bekerja secara tim work, yang pastinya perlunya terjalin komunikasi yang baik antar satu anggota dengan anggota lainnya.

Sari mendapati pengingkatan kreatifitas dan rasa peduli terhadap lingkungan dari setiap proses yang dilaksanakan oleh siswa mulai dari mengumpulkan informasi sampai dengan tahap pengemasan produk (belum pada tahap sosialisasi produk/pemasaran) kegiatan ini  dapat menumbuhkan rasa percaya diri, saling menghargai satu sama lain dan terciptanya kolaborasi yang baik, kreatifitas yang dihasilkan oleh siswa yang merupakan bagian dari upaya dalam membiasakan siswa pada hal-hal bernilai positif yang berkaitan dengan etika yang baik, bagaimana bersosialisasi yang mulai terkikis akibat pemanfatan gedget yang kurang bijak dengan kegiatan ini siswa mulai memahami akan pentingnya menjaga interaksi manusia dan manusia serta interaksi manusia dengan alam, Melalui kegiatan-kegiatan bernilai positif diharapkan siswa selain menjadi insan yang kreatif juga cakap terhadap potensi yang dimiliki daerahnya dengan tetap memperhatikan rambu-rambu serta menjaga kelestarian lingkungan yang ada.
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)